Kewajiban Seorang Istri Terhadap Suaminya dan kewajiban Suami kepada istrinya.

Dalam rangka mewujudkan keluarga Ideal yg Harmonis yakni Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah, sekaligus utk menjaga dan melestarikan keutuhan Keluarga agar tidak kandas di tengah jalan alias perceraian sbg simbol daripada keluarga yg gagal, maka ada baiknya kembali kita baca dan renungi dalam dalam Artikel yang berjudul :
Kewajiban Seorang Istri Terhadap Suaminya dan kewajiban Suami kepada istrinya. dibawah ini.
1. “Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)
2. Menikah adalah fitrah manusia. Rasulullah saw. menyebut menikah sebagai sunahnya. Bahkan, Nabi berkata, siapa yang membenci sunahnya, tidak termasuk dalam golongannya.
3. Setiap kita, pasangan muslim dan muslimah yang melakukan pernikahan, paham betul bahwa tujuan menikah yang utama adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Setelah itu untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawahdah wa rahmah dan meneruskan keturunan dengan memperoleh anak-anak yang saleh dan salehah. Kita juga menyadari bahwa lembaga keluarga yang kita bentuk adalah wadah untuk melaku proses perubahan, baik untuk diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat.
4. Sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan juga sadar bahwa keluarga adalah organisasi kecil yang memiliki aturan dalam pengelolaannya. Karena itu, sepasang suami-istri harus bisa memahami hak dan kewajiban dirinya atas pasangannya dan anggota keluarga lainnya.
5. Sepasang suami-istri dalam berinteraksi di rumah tangga sepatutnya melandasi hubungan mereka dengan semangat mencari keseimbangan, menegakkan keadilan, menebar kasih sayang, dan mendahulukan menunaikan kewajiban daripada menuntut hak.
6. Kewajiban seorang istri terhadap suaminya adalah :
Pertama, mentaati suami. Namun, dalam mentaati suami juga ada batasannya. Batasan itu adalah seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah, Sang Pencipta.”
Kedua adalah menjaga kehormatan dirinya, suami, dan harta keluarga. Ketiga, mengatur rumah tangga. Keempat, mendidik anak-anak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita adalah pengasuh dan pendidik di rumah suami, dan bertanggung jawab atas asuhannya.” Keluarga adalah prioritas seorang istri, meski tidak ada larangan baginya untuk melakukan peran sosialnya di masyarakat seperti berdakwah, misalnya.
7. Istri berkewajiban berbuat baik kepada keluarga suami.
Sedangkan kewajiban seorang suami kepada istrinya adalah :
1 Pertama, membayar mahar dengan sempurna.
2 Kedua, memberi nafkah. Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan wanita, karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah; dan kewajiban kamu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik.”
Ketiga, suami wajib memberi perlindungan kepada istrinya.
Keempat, melindungi istri dari siksa api neraka. Ini perintah Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Allah berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)
Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (Tirmidzi)
Muasyarah bil ma’ruf
Di ayat 19 surat An-Nisa di atas, Allah swt. menggunakan redaksi “muasyarah bil ma’ruf”. Makna kata “muasyarah” adalah bercampur dan bersahabat. Karena mendapat tambahan frase “bil ma’ruf”, maknanya semakin dalam. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan “perbaikilah ucapan, perbuatan, penampilan sesuai dengan kemampuanmu sebagaimana kamu menginginkan dari mereka (pasanganmu), maka lakukanlah untuk mereka.”
Sedangkan Imam Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Pergaulilah istri kalian sebagaimana perintah Allah dengan cara yang baik, yaitu dengan memenuhi hak-haknya berupa mahar dan nafkah, tidak bermuka masam tanpa sebab, baik dalam ucapan (tidak kasar) maupun tidak cenderung dengan istri-istri yang lain.”
Adapun Tafsir Al-Manar menerangkan makna ”muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan, karena semua itu bertentangan dalam pergaulan yang baik dalam keluarga.”
Di antara bentuk perlakuan yang baik adalah melapangkan nafkah, meminta pendapat dalam urusan rumah tangga, menutup aib istri, menjaga penampilan, dan membantu tugas-tugas istri di rumah.
Salah satu hikmah Allah swt. mewajibkan seorang suami ber-muasyarah bil ma’ruf kepada istrinya adalah agar pasangan suami-istri itu mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Karena itu, para ulama menetapkan hukum melakukan “muasyarah bil ma’ruf” sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh para suami agar mendapatkan kebaikan dalam rumah tangga.
Karena itu, para suami yang mendambakan kebaikan dalam rumah tangganya perlu mendalami tabiat perempuan secara umum dan tabiat istrinya secara khusus. Jika menemukan ada sesuatu yang dibenci dalam diri istri, demi kebaikan keluarga temukan lebih banyak kebaikan-kebaikannya. Suami juga harus tahu apa perannya dalam rumah tangga. Dan, jangan pernah mencelakan istri dengan kekerasan, baik secara fisik maupun mental. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.,” Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan , memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.”
Bagaimana jika timbul perselisihan? Cekcok antara suami-istri adalah hal yang manusiawi. Jika Rasulullah saw. memberi toleransi waktu tiga hari bagi dua orang muslim saling mendiamkan satu sama lain, alangkah baiknya jika suami-istri saling mendiamkan di pagi hari, di malam harinya sudah bisa saling senyum lagi. Kenapa?
Sebab, pasangan suami-istri muslim dan muslimah paham betul bahwa perselisihan mereka adalah gangguan Iblis. Rasulullah saw. pernah menerangkan kepada para sahabat, “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukannya, maka yang paling dekat kepadanya, dialah yang paling besar fitnahnya. Lalu datanglah salah seorang dari mereka seraya berkata: aku telah melakukan ini dan itu, Iblis menjawab, kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian datang lagi yang lain melapor, aku mendatangi seorang lelaki dan tidak akan membiarkan dia, hingga aku menceraikan antara dia dan istrinya, lalu Iblis mendekat seraya berkata, “Sangat bagus kerjamu” (Muslim)
Begitulah, Iblis menjadikan menceraikan pasangan suami-istri sebagai prestasi tertinggi tentaranya. Karena itu, Islam mencegah perbuatan yang bisa menyebabkan perselisihan suami-istri. Karena itu, jika cekcok dengan pasangan hidup Anda, segera selesaikan masalahnya. Upayakan selesaikan masalah rumah tangga sendiri. Jangan menghadirkan pihak ketiga. Jika belum selesai juga, hadirkan seseorang yang bisa menjadi hakim yang bisa diterima kedua belah pihak.
Seiring dengan panjangnya perjalanan waktu dan lika-liku kehidupan, kadang ikatan pernikahan mengkendur. Karena itu, perkuat lagi ikatan itu dengan mengingat-ingat kembali tujuan pernikahan. Bangun komunikasi yang positif. Komunikasi adalah kunci keharmonisan. Karena itu, pahami betul cara berkomunikasi pasangan Anda. Dan, hidupkan syuro dalam keluarga. Bahkan untuk urusan kecil sekalipun perlu dibicarakan bersama. Insya Allah, Allah swt. akan memberi kebaikan yang banyak dalam keluarga Anda. Amin.

HIKMAH DAN KEUTAMAAN SILATURRAHIM

HIKMAH DAN KEUTAMAAN SILATURRAHIM
Assalamu Alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabatku ikhwa fillah yang selalu merindukan kedamaian hidup dalam nuansa Islami ,mendambakan Husnul khotimah dan kemuliaan akhirat denga surga Firdaus, SELALULAH DALAM HIDUPMU, karena SILATURRAHIM banyak memiliki HIKMAH dan keutamaan, diantaranya adalah SBB :
1. Tanda hamba Allah yang beriman yang sebenarnya, (hamba mukmin cinta silaturrahim) (QS. 8. 75)
2. Dicabut tanda kesombongan pada dirinya. Ciri orang TAWADHU’ selalu bersilaturrahim
3. Diangkat derajatnya disisi Allah SWT, karena sikap Tawadhu’nya
4. Tidak termasuk golongan orang yang celaka (QS.3.112)
5. Panjang umur dan menyehatkan badan
6. Pintu rezekinya dibuka selebar-lebarnya oleh Allah SWT, dan dimudahkan segala urusannya.(Allah berikan solusi terbaik terhadap permasalahan dan kesulitan yang dihadapinya)
7. Ciri orang yang selalu mendapatkan Rahmat, magfirah, keselamatan, dan barakah Allah, serta ciri akhlak kekasih Allah ,para Auliyah yang selalu bersilaturrahim)
8. Tiket untuk Meraih Ridho Allah agar dapat memasuki Surganya, tidak akan masuk surga bagi manusia yang selalu memutuskan tali silaturrahim (QOTIURRAHIM)
9. Dapat melembutkan hati (QALBUN SALIM/HATI YG PEMAAF), `mencairkan suasana ysng beku, serta dapat menumbuhkan kasih sayang diantara sesama.
10. Dapat memperpanjang umur (umur yang barakah/umur yang selalu diisi dengan amal sholeh)
11. Dapat menolak bala dan bencana serta musibah dan malapetaka yang bisa membahahayakan kita.
12. Meraih syafaat dari nabi Muhammad SAW, dan di akhirat nanti akan bersama Rasul SAW dalam surga Allah SWT.
13. Orang yang bersilaturrahim disayangi Allah dan para Malaikatnya, sayangilah yang di permukaan bumi (bersilaturrahimlah di muka bumi) nanti yang di langit akan kasih sayang kepada Mu. (hadis Qudusi)
Subhanallah…… wahai para sahabatku Ikhwa Fillah…..saatnyalah sekarang kita tanggalkan dan tinggalkan sikap gengsi kita, kerasnya hati kita, keakuan kita, sikap egois kita dengan kesenangan ibadah dan kecintaan untuk selalu bersilaturrahim kepada sesama. Semoga kita meraih keutamaan dan kemuliaan dunia dan akhirat melalui SILATURRAHIM.Amin yarabbal alamin………

MELALUI IBADAH QURBAN MARI KITA TINGKATKAN SEMANGAT KETAQWAAN DAN SEMANGAT SILATURRAHIM/ KEBERSAMAAN KITA DALAM MERAIH PRIBADI YANG IKHLAS, ISTIQOMAH DAN IHSAN. OLEH. H.AHMAD.S.AG (KETUA PHBI KOTA BIMA)

Ibadah qurban adalah salah satu bentuk ibadah mahdah yang dianjurkan Allah Azza Wa Jalla kepada hamba-hambaNya yang beriman dalam memaknai sekaligus mensikapi Al-Kautsar-Nya. Allah SWT.

DR. Yusuf qardawi dalam bukunya yang berjudul : Al Ibadah Fil Islam menjelaskan tentang pengertian Al-Kautsar. –Nya Allah dengan rincian makna sebagai berikut :
Pertama, Al-Kausar bermakna sumber mata air samawi yang paling suci, berupa karunia dan hikmah yang tidak terbatas.
Kedua, Al-Kausar bermakna, segala rahmat dan kebaikan yang bersumber dari Allah.
Ketiga, Al-Kautsar mengandung pengertian kearifan yang luas, kekuatan rohani yang paripurna dan wawasan yang teramat dalam.sehingga tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu yang menyesatkan
Keempat, Al-kautsar mengandung pengertian kecerdasan spiritual,yang berpadu dengan kecerdasan intelektual dan moral, yakni pribadi yang santun dan beradab, bukan pribadi yang brutal, anarkis dan main hakim sendiri,
Kelima, Al-Kautsar mengandung pengertian nama sumur Rasulullah SAW dalam surga yang dipersembahkan khusus kepada hamba-hamba mu’min yang memiliki kepekaan social kepada sesama, melalui media kurban.
Keenam, Al-Kautsar mengandung pengertian Sifat Ar rahman dan Ar Rahimnya Allah yang dikaruniakan kepada hamba-hamaba Mukmin untuk sifati dan dibiaskan kepada sesama, saling asah, asih dan asuh, bukan saling gasak, gesok,gosok dan gosip serta sengaja mengisukan hal-hal yang menyesatkan orang banyak.
Ketujuh. AL Kausar mengandung pengertian nikmat yang paling banyak yang telah diberikan Allah kepada semua mahluknya yang wajib di sukuri.

Dalam mensikapi Al-Kautsar Nya Allah SWT, maka hamba-hamba Mu’min secara khusus diseru oleh Allah untuk melaksanakan 2 (Dua) perintah utama yaitu: perintah menegakkan sholat, dan kedua perintah berkurban sebagaimana pernyataan Allah dalam surat Al-Kautsar ayat 1 s/d 3 :
Artinya: sesungguhnya kami telah memberi nikmat yang banyak kepadamu, maka sholatlah dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus

Setiap Idul Adha tiba, kita diingatkan kepada dua peristiwa penting yaitu :
Ibadah qurban dan Ibadah Haji. Kedua ibadah tersebut mengandung hikmah yang sangat besar dalam kehidupan ummat manusia yang mau berfikir, dari mana kita datang, di mana kita sekarang berada dan akan kemana kita menuju serta untuk apa kita diciptakan. Itulah inti dari prosesi pelaksanaan wukuf yang dilakukan oleh jutaan kaum muslimin dan muslimat pada tanggal 9 Dzulhizzah di Padang Arafah kemarin. Mereka diarahkan mengenal Allah untuk di taati, mengenal diri untuk direnungi keberadaannya, mengenal manusia lain untuk disantuni dan dikasihi, serta mengenal alam ini untuk dikelola dan ditata dengan sebaik baiknya utk kemakmuran dan kemaslahatan umat.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa Nuansa Idul Adha senantiasa diwarnai oleh dua peristiwa akbar yang sangat menggugah perhatian kaum muslimin dan Muslimat di seluruh dunia, kedua peristiwa tersebut :
I.Pertama Kegiatan Ibadah haji di Mekkah Al Mukarramah, tampa diundang atau dipaksa berjuta umat Islam datang dari berbagai penjuru dunia, berkumpul di Mekkah dalam suasana damai dan bersahabat, mereka berjamaah dalam beribadah dengan segala manasiknya, bersatu dengan niat yang sama, melaksanakan prosesi haji dan umrah dengan gerakkan dan alur yang sama, memakai pakaian yang sama yakni pakaian ihram dan melantunkan bacaan yang sama yakni kalimat Talbiyah, Ternyata pelajaran yang bisa kita ambil dari amalan spiritual haji dan umrah : pertama sikap keikhlasan dalam beramal, kedua sikap kesamaan dan kebersamaan, bahwa manusia sama disisi Allah, yang membedakan hanyalah derajat ketaqwaanya. Ketiga ketawaduan dalam bersikap dan berakhlak, baik kepada Allah SWT, maupun kepada sesama manusia.
II. Kedua , Pada hari ini, kita diingatkan pula kepada drama kehidupan dalam bentuk percontohan yang sungguh luar biasa yang diperankan oleh tiga figur manusia pilihan, yaitu figur Nabi Ibrahim as sebagai seorang ayah yang arif dan bijak, figur Siti Hajar sebagai seorang Ibu yang sangat ulet dan sabar, serta figur Nabi Ismail as, sebagai seorang anak yang sangat patuh dan pasrah kepada perintah Allah SWT.
Itulah drama kehidupan yang amat menumental dalam sejarah kemanusiaan, didalamnya terungkap keridhoan seorang ibu dalam berkurban, keikhlasan dan ketulusan seorang anak dalam berkurban kepada Allah, serta ketawakkalan seorang ayah dalam menjujung tinggi perintah Allah SWT. Kesimpulannya bahwa ketiga figure tersebut, adalah pribadi yang sangat IKHLAS, sangat ISTIQOMAH DAN sangat IHSAN.ternyata Nabi Ibrahim pribadi yang paling ikhlas, istiqomah dan ihsan, demikian pula Ismail dan st Hajar. Semoga kita mampu meneladani akhlak ketiga manusia pilihan tersebut.

Ketika detik-detik pengorbanan yang dramatis itu berlangsung, terjadilah dialog antara Ibrahim dan putranya Ismail, yang sangat menggugah hati dan perasaan, sebagai contoh kuatnya iman dan taqwa mereka kepada Allah SWT, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam surat Asshofat ayat 102,
                            
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Wahai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu wahai anakku” sang anak menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu ayah; Insya Allah ayah akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.
(QS. As Shafat 102)
Begitu mengharukan proses pengorbanan itu, terlebih lagi ketika Ismail dengan penuh tawakal memohon kepada Ayahnya :
“Wahai Ayah ! Ikatlah kaki dan tangan saya kuat-kuat, agar gelepar tubuh saya tidak membuat ayah bimbang. Telungkupkan tubuh saya sehingga muka menghadap ke tanah, supaya Ayah tidak melihat wajah saya. Wahai Ayah ! jagalah darahku jangan sampai memerciki pakaian Ayah karena bisa menyebabkan perasaan ayah iba kepada saya, sehingga akan mengurangi pahala ayah. Dan asahlah pisau itu tajam-tajam ayah, agar proses penyembelihan saya berjalan dengan lancar. Wahai Ayah ! baju saya yang berlumur darah nanti, bawalah pulang dan serahkan pada Ibunda tercinta , sampaikan salam takdim saya, ayah kepada ibunda tercinta, semoga beliau sabar menerima ujian ini.
setelah dialog haru yang sangat menakjubkan antara sang ayah dan sang anak itu berlangsung, maka spontan Allah mengatakan :
                       
maka tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim telah merebahkan Ismail, meletakkan pipinya diatas tanah. Lalu Kami memanggil ia “wahai Ibrahim, telah engkau turuti perintah itu ! Demikianlah, Kami akan membalas orang-orang yang berbuat baik. Ketahuilah, bahwa perintah ini hanyalah ujian yang nyata”. (QS. As Shafat :
Tokoh Nabi Ibrahim AS sebagai ayah seyogyanya dijadikan contoh oleh para ayah masa kini, dia mencintai anak dan istrinya. Namun cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada anak dan istrinya. Beliau adalah profil suami yang sangat ikhlas, adil, bijaksana, jujur, sabar, ulet, tawakkal penuh mahabbah bertanggung jawab, pemurah, disiplin, serta pribadi yang amanah,. Siti Hajar seorang ibu teladan sejati sepatutnya dijadikan contoh oleh ibu-ibu di jaman sekarang, dia adalah profil wanita sholehah, sangat taat kepada Allah, patuh kepada suami, arif dan bijaksana kepada anak-anaknya, mampu menjaga kehormatan dirinya serta mampu menjaga kehormatan dan harta suaminya.
Sedangkan profil Ismail adalah sosok remaja yang sangat taat kapada Allah dan kedua orang tuanya yang harus dijadikan contoh dan teladan oleh remaja dan pemuda dizaman sekarang
Ciri hamba mukmin yang paling ikhlas, istiqomah dan Ihsan adalah mereka yang senantiasa berkurban mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan makna Qurban dalam bukunya yang berjudul : At-Tasawuf Fil Islam, bahwa Ibadah Qurban mengandung makna yang sangat dahsyat bagi hamba mukmin. Beliau menjelaskan makna Qurban dengan begitu jelas, mudah dipahami, serta praktis untuk disikapi :
1. Qurban bermakna : Dzabhan min sifhati syaithon. Yaitu : proses penyembelihan sifat-sifat, tabiat dan perilaku syaithoniyah yang kembali melekat dalam diri kita pasca Idul Fitri 2 bulan yang lalu. Ketiga tabiat syaithoniyah yang harus kita tinggalkan, yaitu pertama sikap Aba (enggan, enggan mengerjakan shalat, enggan berzakat, enggan berhaji, enggan berpuasa, enggan berkurban, enggan bersilaturrahim, enggan mengaji. Kedua sikap Wastakbara yakni sikap keangkuhan, kesombongan,dan kepongahan baik kepada Allah maupun kepada sesame manusia. Ibadah Qurban mengikis sifat sombong, angkuh dan takabur yang masih melekat pada setiap pribadi muslim,
“Tidak akan masuk surga orang-orang yang didalam hatinya masih terdapat sifat sombong, walaupun sebesar dzarrah”. Ketiga Sikap AL BAGDHO (KEBENCIAN KEPADA SESAMA)DAN AL ADAWAH (PERMUSUHAN KEPADA SESAMA)
. Inilah tiga sifat dasar syaiton yang harus kita korbankan dan buang jauh-jauh melalui ibadah qurban yang sedang kita laksanakan di pagi hari ini.

Yang kedua makna Qurban menurut Ibnu Taimiyah :
2. Qurban bermakna dzabhan min sifhatil bahimiyah.mengandung pengertian proses penyembelihan sifat-sifat, karakter dan tabiat Al-Bahimiyah (kebinatangan), sehingga dalam Al-Islam simbol Qurban yang harus disembelih adalah hewan atau binatang. Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat hewani, tabiat-tabiat kebinatangan serta perilaku Al-Bahimiyah harus ditinggalkan oleh hamba-hamba mukmin yang berkurban. Ada tiga sifat hewani yang harus kita tinggalkan. Pertama sifat Qillatul Haya’ yaitu sifat tidak ada rasa malunya dalam melaksanakan kemaksiatan kepada Allah. Kedua sifat Tamak, Rakus, Serakah serta Hubbudduniya terlalu cinta dunia dan melupakan akhirat. Ketiga sifat buas, kejam dan beringas kepada sesama. Inilah tiga sifat dasar al-bahimiyah ¬ yang harus kita buang jauh-jauh melalui proses penyembelihan dan pengorbanan, di pagi hari yang mubarak ini
3. Ibadah Qurban mengandung pegertian proses penyembelihan terhadap karakter Al Amara Bissu, (sifat kecendrungan kepada yang jahat dan menyesatkan) yang masih melekat dalam pribadi umat Islam, seperti sikap mengadu domba, suka menyebarkan isu-isu yang tidak benar,bertindak brutal, menghakimi orang tampa prosedur hukum, dan cendrung bersikap anarkis, semoga kita semua mampu meninggal sifat al amara bissu melalui media Qurban di pagi hari ini,

Sebagai kesimpulan akhir dari tulisan ini, maka melalui risalah yang sangat simpel dan sederhana ini, saya mengajak kepada kita semua :
1. Mari kita jaga keikhlasan dalam beramal, ketawaduan dalam bersikap, kesabaran dalam menghadapi setiap masalah,serta kearifan dan kehati-hatian dalam mensikapi berbagai isu dan informasi yang berkembang.
2. Mari kita jaga keutuhan silaturrahim dan kebersamaan diantara kita,saling asah,asih dan asuh , serta mari kita jaga bersama kondusifitas kota bima yang aman, nyaman , sejuk dan harmonis,inilah icon kota Bima berteman yang religi.
3. Mari kita jaga semangat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, dengan istiqomah menegakkan Sholat dan Berqurban.
4. Mari kita jaga hati, lisan ,sikap dan akhlaq kita, jangan sampai menghancurkan dan mengorbankan hamba Allah yang tidak berdosa,
5. Mari kita meneladani sikap ikhlas, istiqomah dan ihsan yang di teladankan oleh ketiga manusia pilihan yaitu : Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan St Hajar.

Ada 7 agenda amal harian guna utk meraih Rahmat, Magfirah, Berkah , Ridho dan husnul Khotimah serta Surga Allah swt.

Ada 7 agenda amal harian
guna utk meraih Rahmat, Magfirah, Berkah , Ridho dan husnul Khotimah serta Surga Allah swt.
adapun ketujuh amal harian termulia tersebut sbb :
1. istiqomah dengan sholat fardhu tepat waktu.(sudahkah kita sholat fardhu tepat waktu hari ini ?)
2. istiqomah dengan bersedeqah setiap hari /500,1000,5000.10.000/perhari (sudahkah kita bersedeqah hari ini ?)
3. istiqomah dengan membaca al qur an setiap hari (sudahkah kita membaca al qur an hari ini ?) (membaca surat al ikhlas, ayat kursi, dua ayat terakhir dari surat al baqarah, yasinn al waqiah, al muluk, assajadah, al kahfi, addukhan, al hasyar, arrahman, al fat. al fatihaha, al falaq dan an nas )
4. istiqomah dengan berzikir harian setiap hari ( sudahkah kita berzikir hari ini ?) subhanallah wal hamdulillah wala ilahaillah wallahu akbar laa haula walaquwwata illabillahil aliyil adhim. istigfar dan sholawat.
5. istiqomah dengan qiyamul lail/tahajjud setiap malam dan sholat duha setiap pagi (sudahkah kita berqiyamul lail malam ini ?, dan berduha pagi ini ?)
6. istiqomah dengan bersilaturrahim kepada kedua orang tua dan kepada sesama (sudahkah kita bersilaturrahim hari ini ?)
7. istiqomah dengan taubat nasuhah (sudahkah kita bertaubat hari ini ?)
allahumma inna nas aluka ridhooka kawal jannah wana uzubika min syakhatika wannar (dibaca 3 kali setiap
H.Ahmad.S,Ag

MELALUI IBADAH QURBAN MARI KITA TINGKATKAN SEMANGAT KETAQWAAN DAN SEMANGAT SILATURRAHIM/ KEBERSAMAAN DI ANTARA KITA.

JUDUL :MELALUI IBADAH QURBAN MARI KITA TINGKATKAN SEMANGAT KETAQWAAN DAN SEMANGAT SILATURRAHIM/ KEBERSAMAAN DI ANTARA KITA.
OLEH. H.AHMAD.S.AG (KETUA PHBI KOTA BIMA)
(Disampaikan Di Halaman Kantor Pemkot Bima)

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Sidang Id yang dirahmati dan dimuliakan Allah SWT.

Al-hamdulillah, segala puji Bagi Allah, Zat yang Maha Rahman dan Maha Rahim, Semoga sifat Rahman dan RahimNya senantiasa menghiasii ketaatan, kepatuhan, kesetiaan dan kebersamaan kita di pagi hari yang mubarok ini.

Pagi hari ini tanggal 10 Dzulhijjah 1433 H, yang bertepatan dengan hari jum at tanggal 26 oktober 2012 M, kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia melaksanakan dua hari raya sekaligus : pertama melaksanakan Hari Raya Idul Adha sebagai tanda kesetiaan dan kepatuhan kepada Allah , yang dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban, yang dagingnya disalurkan kepada fakir miskin. Kemudian yang kedua melaksanakan sholat jum at sebagai hari raya pekanan bagi kaum muslimin dan muslimat , sebagimana sabda nabi INNAL YAUMAL JUM ATA HIJJUL FUQARO WAYAU MUHA IDUL MASAKIN. Sesungguhnya hari jumat itu adalah hari hajinya bagi para fuqara dan hari rayanya bagi orang orang miskin. (HR,Muslim)
Ibadah qurban adalah salah satu bentuk ibadah mahdah yang dianjurkan Allah Azza Wa Jalla kepada hamba-hambaNya yang beriman dalam memaknai sekaligus mensikapi Al-Kautsar-Nya. Allah SWT.

DR. Yusuf qardawi dalam bukunya yang berjudul : Al Ibadah Fil Islam menjelaskan tentang pengertian Al-Kautsar. –Nya Allah dengan rincian makna sebagai berikut :
Pertama, Al-Kausar bermakna sumber mata air samawi yang paling suci, berupa karunia dan hikmah yang tidak terbatas.
Kedua, Al-Kausar bermakna, segala rahmat dan kebaikan yang bersumber dari Allah.
Ketiga, Al-Kautsar mengandung pengertian kearifan yang luas, kekuatan rohani yang paripurna dan wawasan yang teramat dalam.sehingga tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu yang menyesatkan, seperti yang sedang diisukan didaerah kita akhir-akhir ini, apakah itu isu penculikan, isu SARA, isu dukun santet, dan isu-isu lainnnya, yang kesemuanya itu mengarah kepada gangguan KAMTIBMAS di daerah kita dan dis harmanisasi/ketidak harmonisan diantara kita, bahkan telah menelan korban jiwa sia-sia disebabkan karena kebiadaban termakan oleh isu penculikan anak dan penjualan organ tubuh manusia melalui sms yang bersifat profokatif lagi menyesatkan itu,sungguh disesalkan hal ini terjadi di daerah bumi gora yang terkenal Religius ini.
Keempat, Al-kautsar mengandung pengertian kecerdasan spiritual,yang berpadu dengan kecerdasan intelektual dan moral, yakni pribadi yang santun dan beradab, bukan pribadi yang brutal, anarkis dan main hakim sendiri,
Kelima, Al-Kautsar mengandung pengertian nama sumur Rasulullah SAW dalam surga yang dipersembahkan khusus kepada hamba-hamba mu’min yang memiliki kepekaan social kepada sesama, melalui media kurban.
Keenam, Al-Kautsar mengandung pengertian Sifat Ar rahman dan Ar Rahimnya Allah yang dikaruniakan kepada hamba-hamaba Mukmin untuk sifati dan dibiaskan kepada sesama, saling asah, asih dan asuh, bukan saling gasak, gesok,gosok dan gosip serta sengaja mengisukan hal-hal yang menyesatkan orang banyak.
Ketujuh. AL Kausar mengandung pengertian nikmat yang paling banyak yang telah diberikan Allah kepada semua mahluknya yang wajib di sukuri.

Dalam mensikapi Al-Kautsar Nya Allah SWT, maka hamba-hamba Mu’min secara khusus diseru oleh Allah untuk melaksanakan 2 (Dua) perintah utama yaitu: perintah menegakkan sholat, dan kedua perintah berkurban sebagaimana pernyataan Allah dalam surat Al-Kautsar ayat 1 s/d 3 :

Artinya: sesungguhnya kami telah memberi nikmat yang banyak kepadamu, maka sholatlah dan berkurbanlah.
Setiap Idul Adha tiba, kita diingatkan kepada dua peristiwa penting yaitu :
Ibadah qurban dan Ibadah Haji. Kedua ibadah tersebut mengandung hikmah yang sangat besar dalam kehidupan ummat manusia yang mau berfikir, dari mana kita datang, di mana kita sekarang berada dan akan kemana kita menuju serta untuk apa kita diciptakan. Itulah inti dari prosesi pelaksanaan wukuf yang dilakukan oleh jutaan kaum muslimin dan muslimat pada tanggal 9 Dzulhizzah di Padang Arafah kemarin. Mereka diarahkan mengenal Allah untuk di taati, mengenal diri untuk direnungi keberadaannya, mengenal manusia untuk disantuni dan dikasihi, dan mengenal alam ini untuk dikelola dan ditata dengan sebaik baiknya.

Allahu Akbar 3 X Walillahilhamdu.
Sidang Id yang dirahmati Allah SWT.

Seperti yang dijelaskan diawal khutbah tadi bahwa Nuansa Idul Adha senantiasa diwarnai oleh dua peristiwa akbar yang sangat menggugah perhatian kaum muslimin dan Muslimat di seluruh dunia, kedua peristiwa tersebut :
I.Pertama Kegiatan Ibadah haji di Mekkah Al Mukarramah, tampa diundang atau dipaksa berjuta umat Islam datang dari berbagai penjuru dunia, berkumpul di Mekkah dalam suasana damai dan bersahabat, mereka berjamaah dalam beribadah dengan segala manasiknya, bersatu dengan niat yang sama, melaksanakan prosesi haji dan umrah dengan gerakkan dan alur yang sama, memakai pakaian yang sama yakni pakaian ihram dan melantunkan bacaan yang sama yakni kalimat Talbiyah, Ternyata pelajaran yang bisa kita ambil dari amalan spiritual haji dan umrah : pertama sikap keikhlasan dalam beramal, kedua sikap kesamaan dan kebersamaan, bahwa manusia sama disisi Allah, yang membedakan hanyalah derajat ketaqwaanya. Ketiga ketawaduan dalam bersikap dan berakhlak, baik kepada Allah SWT, maupun kepada sesama manusia.
II. Kedua , Pada hari ini, kita diingatkan pula kepada drama kehidupan dalam bentuk percontohan yang sungguh luar biasa yang diperankan oleh tiga figur manusia pilihan, yaitu figur Nabi Ibrahim as sebagai seorang ayah yang arif dan bijak, figur Siti Hajar sebagai seorang Ibu yang sangat ulet dan sabar, serta figur Nabi Ismail as, sebagai seorang anak yang sangat patuh dan pasrah kepada perintah Allah SWT.
Itulah drama kehidupan yang amat menumental dalam sejarah kemanusiaan, didalamnya terungkap keridhoan seorang ibu dalam berkurban, keikhlasan dan ketulusan seorang anak dalam berkurban kepada Allah, serta ketawakkalan seorang ayah dalam menjujung tinggi perintah Allah SWT.
Ketika detik-detik pengorbanan yang dramatis itu berlangsung, terjadilah dialog antara Ibrahim dan putranya Ismail, yang sangat menggugah hati dan perasaan, sebagai contoh kuatnya iman dan taqwa mereka kepada Allah SWT, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam surat Asshofat ayat 102,
                            
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Wahai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu wahai anakku” sang anak menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu ayah; Insya Allah ayah akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.
(QS. As Shafat 102)
Begitu mengharukan proses pengorbanan itu, terlebih lagi ketika Ismail dengan penuh tawakal memohon kepada Ayahnya :
“Wahai Ayah ! Ikatlah kaki dan tangan saya kuat-kuat, agar gelepar tubuh saya tidak membuat ayah bimbang. Telungkupkan tubuh saya sehingga muka menghadap ke tanah, supaya Ayah tidak melihat wajah saya. Wahai Ayah ! jagalah darahku jangan sampai memerciki pakaian Ayah karena bisa menyebabkan perasaan ayah iba kepada saya, sehingga akan mengurangi pahala ayah. Dan asahlah pisau itu tajam-tajam ayah, agar proses penyembelihan saya berjalan dengan lancar. Wahai Ayah ! baju saya yang berlumur darah nanti, bawalah pulang dan serahkan pada Ibunda tercinta , sampaikan salam takdim saya, ayah kepada ibunda tercinta, semoga beliau sabar menerima ujian ini.
setelah dialog haru yang sangat menakjubkan antara sang ayah dan sang anak itu berlangsung, maka spontan Allah mengatakan :
                       
maka tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim telah merebahkan Ismail, meletakkan pipinya diatas tanah. Lalu Kami memanggil ia “wahai Ibrahim, telah engkau turuti perintah itu ! Demikianlah, Kami akan membalas orang-orang yang berbuat baik. Ketahuilah, bahwa perintah ini hanyalah ujian yang nyata”. (QS. As Shafat :
Tokoh Nabi Ibrahim AS sebagai ayah seyogyanya dijadikan contoh oleh para ayah masa kini, dia mencintai anak dan istrinya. Namun cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada anak dan istrinya. Beliau adalah profil suami yang sangat ikhlas, adil, bijaksana, jujur, sabar, ulet, tawakkal penuh mahabbah bertanggung jawab, pemurah, disiplin, serta pribadi yang amanah,. Siti Hajar seorang ibu teladan sejati sepatutnya dijadikan contoh oleh ibu-ibu di jaman sekarang, dia adalah profil wanita sholehah, sangat taat kepada Allah, patuh kepada suami, arif dan bijaksana kepada anak-anaknya, mampu menjaga kehormatan dirinya serta mampu menjaga kehormatan dan harta suaminya.
Sedangkan profil Ismail adalah sosok remaja yang sangat taat kapada Allah dan kedua orang tuanya yang harus dijadikan contoh oleh remaja dan pemuda dijaman sekarang
Allahu Akbar 3X Walillahulhamd.
Ma’asyiral muslimin-muslimat siding id yang berbahagia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan makna Qurban dalam bukunya yang berjudul : At-Tasawuf Fil Islam, bahwa Ibadah Qurban mengandung makna yang sangat dahsyat bagi hamba mukmin. Beliau menjelaskan makna Qurban dengan begitu jelas, mudah dipahami, serta praktis untuk disikapi :
1. Qurban bermakna : Dzabhan min sifhati syaithon. Yaitu : proses penyembelihan sifat-sifat, tabiat dan perilaku syaithoniyah yang kembali melekat dalam diri kita pasca Idul Fitri 2 bulan yang lalu. Ketiga tabiat syaithoniyah yang harus kita tinggalkan, yaitu pertama sikap Aba (enggan, enggan mengerjakan shalat, enggan berzakat, enggan berhaji, enggan berpuasa, enggan berkurban, enggan bersilaturrahim, enggan mengaji. Kedua sikap Wastakbara yakni sikap keangkuhan, kesombongan,dan kepongahan baik kepada Allah maupun kepada sesame manusia. Ibadah Qurban mengikis sifat sombong, angkuh dan takabur yang masih melekat pada setiap pribadi muslim,
“Tidak akan masuk surga orang-orang yang didalam hatinya masih terdapat sifat sombong, walaupun sebesar dzarrah”. Ketiga Sikap AL BAGDHO (KEBENCIAN KEPADA SESAMA)DAN AL ADAWAH (PERMUSUHAN KEPADA SESAMA)
. Inilah tiga sifat dasar syaiton yang harus kita korbankan dan buang jauh-jauh melalui ibadah qurban yang sedang kita laksanakan di pagi hari ini.

Allahu Akbar 3X Walillahulhamd.
Ma’asyiral muslimin-muslimat siding id yang berbahagia.

Yang kedua makna Qurban menurut Ibnu Taimiyah :
2. Qurban bermakna dzabhan min sifhatil bahimiyah.mengandung pengertian proses penyembelihan sifat-sifat, karakter dan tabiat Al-Bahimiyah (kebinatangan), sehingga dalam Al-Islam simbol Qurban yang harus disembelih adalah hewan atau binatang. Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat hewani, tabiat-tabiat kebinatangan serta perilaku Al-Bahimiyah harus ditinggalkan oleh hamba-hamba mukmin yang berkurban. Ada tiga sifat hewani yang harus kita tinggalkan. Pertama sifat Qillatul Haya’ yaitu sifat tidak ada rasa malunya dalam melaksanakan kemaksiatan kepada Allah. Kedua sifat Tamak, Rakus, Serakah serta Hubbudduniya terlalu cinta dunia dan melupakan akhirat. Ketiga sifat buas, kejam dan beringas kepada sesama. Inilah tiga sifat dasar al-bahimiyah ¬ yang harus kita buang jauh-jauh melalui proses penyembelihan dan pengorbanan, di pagi hari yang mubarak ini
3. Ibadah Qurban mengandung pegertian proses penyembelihan terhadap karakter Al Amara Bissu, (sifat kecendrungan kepada yang jahat dan menyesatkan) yang masih melekat dalam pribadi umat Islam, seperti sikap mengadu domba, suka menyebarkan isu-isu yang tidak benar,bertindak brutal, menghakimi orang tampa prosedur hukum, dan cendrung bersikap anarkis, semoga kita semua mampu meninggal sifat al amara bissu melalui media Qurban di pagi hari ini,

Allahu Akbar 3X Walillahulhamd.
Ma’asyiral muslimin-muslimat sidang id yang berbahagia.

Sebagai kesimpulan akhir dalam khutbah ini, maka melalui mimbar yang terhormat ini khotib mengajak kepada kita semua :
1. Mari kita jaga keikhlasan dalam beramal, ketawaduan dalam bersikap, kesabaran dalam menghadapi setiap masalah,serta kearifan dan kehati-hatian dalam mensikapi berbagai isu dan informasi yang berkembang.
2. Mari kita jaga keutuhan silaturrahim dan kebersamaan diantara kita,saling asah,asih dan asuh , serta mari kita jaga bersama kondusifitas kota bima yang aman, nyaman , sejuk dan harmonis,inilah icon kita Bima berteman yang religi.
3. Mari kita jaga semangat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, dengan istiqomah menegakkan Sholat dan Berqurban.
4. Mari kita jaga hati, lisan ,sikap dan akhlaq kita, jangan sampai menghancurkan dan mengorbankan hamba Allah yang tidak berdosa,
5. Mari kita meneladani sikap ihsan yang di teladankan oleh tiga manusia pilihan yaitu : Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan St Hajar.
Allahu Akbar 3X Walillahulhamd.
Marilah kita sama-sama berdo’a dan bermunajat kepada Allah SWT. Dengan kepasrahan jiwa yang bening dan ketulusan hati yang tawadhu’ semoga doa dan permohonan kita diterima dan diijabahi oleh Allah SWT. Amin…..
AL HAMDULILLAHIRABBIL ALAMIN………………..
DO’A

Allahumma ya Allah ya.. Tuhan kami. Limpahkanlah RahmatMu, TaufikMu dan HidayahMu kepada kami dari sisiMu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjukMu yang lurus dalam setiap urusan kami. Ya Allah Ya Tuhan kami terimalah segala amal ibadah kami ,zikir takbir, tahmid dan tahlil kami,pengorbanan kami, Serta ibadah sholat Idul Adha yang baru saja kami lakukan pada pagi hari ini, sehingga kami menjadi insane-insan kamil yang muttaqin.

Ya Allah Ya Tuhan kami ampunilah dosa-dosa kami, dosa ibu bapak kami, dosa guru-guru kami, dosa ulama-ulama kami, dosa para pemimpin bangsadan daerah kami serta dosa seluruh kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang sudah mendahului kami .

Ya Allah hindarkanlah dan selamatkanlah Negara, bangsa dan daerah kami dari himpitan segala musibah, bala dan bencana , permusuhan dan dis harmonisasi diantara kami,

Ya Allah jadikanlah diri kami pribadi yang ikhlas dalam beribadah, jujur dan amanah dalam bersikap, sabar dan ulet dalam menghadapi setiap masalah, ihsan dalam bertindak serta pribadi yang berakhlakul karimah.
Ya Allah warnailah daerah kami dengan rahmat dan berkahMu, curahkanlah hujan rahmat dan hujan barakahMu pada penduduk negeri Kota Bima tercinta ini.
Allahumma Ya Allah, lindungilah kami dari isu-isu yang menyesatkan kami, lindungilah kami dari tindakan kebrutalan dan anarkis kami, lindungilah kami dari permusuhan dan perkelahian diantara kami, lindungilah kami dari sikap memprofokasi orang lain, lindungilah kami dari mendolimi orang lain, lindungilah kami dari membunuh di antara sesama, serta lindungilah kami dari perbutan dosa dan maksiat.
Allahumma ya Allah, ampunilah dosa kdua orang tua kami, sayangi mereka ya Allah…….. sayangi mereka Ya Rahman…….. sayangi mereka Ya Rahim………. Allahummagfirlana junubana wali walidaina warhamhuma kama rabbayana sagira.

Rabbana taqabbal minna innka antassami ul alim watub alaina innaka antattauwaburrahim.
Rabbana atina fi dunniya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina azabannar.
Wa sallallahu ala Muhammadin subhana rabbika rabbil izati amma yasifun wa salamun alal mursalin. Walhamdulillahi rabbil alamin.
Wassalamu’alaikum war. War.

Menyingkap keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Menyingkap keutamaan 10 Hari Pertama
Bulan Dzulhijjah
Oleh .H.Ahmad.S.Ag.(Sekum MUI Kota Bima)

Bulan Dzulhijah Insyaallah akan kembali menghampiri kita (kurang lebih satu dua hari lagi kita akan memasuki 1 zdul hijjah 1433 h. yaitu tepatnya pada tanggal 17 oktober 2012
Mengapa 10 hari pertama Dzulhijjah begitu istimewa, sehingga dianjurkan berpuasa pada saat-saat itu? Kita simak sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
Hari 1 bulan Dzulhijah adalah hari di mana Allah swt mengampuni dosanya Nabi Adam as. Barang siapa berpuasa pada hari tersebut, Allah swt akan mengampuni segala dosanya.
Hari 2 bulan Dzulhijah adalah hari di mana Allah swt mengabulkan doa Nabi Yunus dengan mengeluarkannya dari perut ikan nun. Barang siapa berpuasa pada hari itu seolah olah telah beribadah selama satu tahun penuh tanpa berbuat maksiat sekejap pun.
Hari 3 bulan Dzulhijah adah hari di mana Allah swt mengabulkan doa Nabi Zakaria. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah swtakan mengabulkan segala do’anya.
Hari 4 bulan Dzulhijah adalah hari di mana Nabi Isa AS dilahirkan. Barang siapa berpuasa pada hari itu akan terhindar dari kesengsaraan dan kemiskinan.
Hari 5 bulan Dzulhijah adalah hari di mana Nabi Musa AS dilahirkan, barang siapa berpuasa pada hari itu akan bebas dari kemunafikan dan azab kubur.
Hari 6 bulan Dzulhijah adalah hari dimana Alloh swt.membuka pintu kebajikan untuk Nabinya, barang siapa berpuasa pada hari itu akan dipandang oleh Alloh dengan penuh Rahmat dan tdk akan diadzab.
Hari 7 adalah hari ditutupnya pintu jahannam dan tidak akan dibuka sebelum hari kesepuluh lewat. Barang siapa berpuasa pada hari itu Allah swt akan menutup tiga puluh pintu kemelaratan dan kesukaran serta akan membuka tigapuluh pintu kesenangan dan kemudahan.
Hari 8 adalah hari Tarwiyah. Barang siapa berpuasa pada hari itu akan memperoleh pahala yang tidak diketahui besarnya kecuali oleh Allah swt.
Hari 9 adalah hari Arafah. Barang siapa berpuasa pada hari itu puasanya menjadi tebusan dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Hari 10 adalah hari raya Iedul Qurban. Barang siapa menyembelih Qurban, maka pada tetesan pertama darah Qurban diampunkan dosa dosanya dan dosa anak anak dan istrinya.

Macam-macam Amalan

1. Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga”.

2. Berpuasa
“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaq ‘Alaih].
Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi Muhammad SAW mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …”
Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.
Jika tidak mampu berpuasa pada sembilan hari awla bulan Dzulhijjah, dapat berpuasa di sebagian harinya, khususnya puasa pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

3. Takbir dan Dzikir
Takbir dan zikir pada hari-hari tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak zikir pada hari-hari tersebut berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma:

“Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Ishaq Rahimahullah meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu” (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) yang hak selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah, seperti: takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

4. Taubat serta Meninggalkan Segala Maksiat dan Dosa.
Taubat akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah dan ketaatan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

5. Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat, seperti : shalat sunah, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan, amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya. Meskipun merupakan amal ibadah yang utama.

6. Disyariatkan pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjamaah. Bagi selain jamaah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

7. Melaksanakan Shalat Iedul Adha dan Mendengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

8. Berkurban pada Hari Raya Qurban dan Hari-hari Tasyriq.
Disunahkan berkurban pada hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq (11-13 Dzulhijjah) sebagaimana ini adalah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

Tidak memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkurban. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘Anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.

Firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 196):
“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”.

9 Zikir dan Bersyukur
Selain amalan di atas, hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan, memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Makna Spiritual Haji dibalik pelaksanaan Ibadah Haji

Makna Spiritual Haji dibalik pelaksanaan Ibadah Haji
Oleh : H.Ahmad.S.Ag (Sekretaris umum MUI Kota Bima

Tampa terasa telah satu bulan lebih Ramadhan meninggalkan kita, kini musim haji tahun 1433 H/2012 , telah hadir di depan mata kita . Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, Negara kita kembali memberangkatkan ratusan jemaah yang berasal dari berbagai daerah termasuk jamaah calon haji dari Kota dan Kabupaten Bima.. Ibadah haji, seperti yang kita ketahui, merupakan Rukun Islam ke-5 dan hanya ditujukan bagi mereka yang mampu. Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya pelaksanaan ibadah haji sungguh sangatlah berat karena membutuhkan persiapan yang matang, mulai dari fisik, mental, sampai materi.

Jadi sesungguhnya dalam melaksanakan haji kita tidak boleh main-main mengingat beratnya persiapan tersebut. Tetapi insyaAllah dengan niat yang ikhlas dan atas dasar iman kepada Allah Swt. semua halangan akan mudah untuk dilalui. Lalu apakah haji itu sebenarnya? Apakah hanya sekedar ‘jalan-jalan’ ke Baitullah (rumah Allah Swt.)? Atau ada makna lain yang tersembunyi’
sesungguhnya ada dua dimensi dalam pelaksanaan haji, yaitu: dimensi vertikal (Hablumminallah) dan dimensi horizontal (Hablumminannas). Haji, jika kita lihat dari tata cara pelaksanaannya, merupakan suatu rangkaian pengulangan sejarah dari tiga anak manusia dalam upaya mereka mencapai tauhid. Mereka itu adalah Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as, dan Siti Hajar (istri kedua Nabi Ibrahim as dan ibunda Nabi Ismail as). Sekarang saya akan mencoba merunutkan arti penting dari rukun haji.

Makna Ihram
Sebelumnya, pernahkah kita bertanya mengapa kita diwajibkan untuk memakai pakaian ihram pada waktu haji? Lalu mengapa pakaian ihram tersebut tidak boleh dijahit? Dan mengapa harus berwarna putih serta terbuat dari bahan yang sama? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kita harus merujuk kepada salah satu firman Allah Swt. yang menyatakan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan dengan status yang sama yakni sebagai khalifah di bumi (QS. 6:165, QS. 10:14) dan sesungguhnya yang membedakan manusia dihadapan Allah Swt. adalah iman dan taqwa (QS. 49:13). Dengan memakai ihram, maka manusia dibebaskan dari status-status yang bersifat duniawi. Kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang sedang berhaji ketika itu, mungkin ada pengusaha, artis, atau mungkin pejabat diantara kita karena ketika kita berhaji, maka satu-satunya status yang melekat pada diri kita adalah sebagai hamba Allah Swt., tidak lebih.

Makna lain yang terkandung dalam pemakaian pakaian ihram adalah sesungguhnya kita menghadap Allah Swt. dalam ketelanjangan. Itu sebabnya kita dilarang untuk menjahit ihram. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kita datang menghadap Allah Swt. dalam ketelanjangan? Sebenarnya hal tersebut merupakan perumpamaan dimana kita diminta untuk menghadap Allah Swt. dengan apa adanya, tidak terjebak oleh materi-materi duniawi, seperti pakaian sehari-hari yang, kembali, dapat melekatkan kita kepada status yang ada di dalam masyarakat.

Selain itu, pernahkah anda menyadari bahwa dengan memakai ihram, sesungguhnya kita diingatkan bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah abadi, melainkan hanya senda gurau belaka (QS. 29:64). Dalam hal ini, pakaian ihram dianalogikan sebagai kain kafan yang setiap saat dapat membalut tubuh kita. Untuk itu kita harus menyadari benar konsep inna lillahi wa inna ilaihi raji’un yang mengandung arti bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Allah Swt. dan kepada-Nyalah kita akan kembali.

Pemaparan di atas merupakan makna dari ihram apabila ditinjau dari dimensi yang pertama, yaitu dimensi vertikal. Lalu apakah makna ihram apabila dilihat dari dimensi yang kedua, yaitu horizontal? Sesungguhnya, makna yang terkandung sangatlah sederhana yaitu kita diminta untuk menanggalkan segala kepalsuan dan diminta untuk senantiasa bertindak apa adanya. Salah satu budaya negatif dari masyarakat Indonesia yang mengandung unsur kepalsuan tersebut adalah budaya hipokrit atau mungkin kita lebih mengenalnya dalam kalimat asal bapak senang (ABS). Hipokrit atau munafik, merupakan suatu sikap dimana kita melegalkan kedustaan demi tercapainya keinginan pribadi. Sebagai contoh, kita sering mendengar seseorang memuji atasannya demi kenaikan pangkat, bukan karena atasannya memang layak untuk dipuji karena kepribadiannya ataupun etos kerjanya.

Di samping itu, dengan memakai pakaian ihram kita disadarkan untuk melepaskan diri dari kesombongan, klaim superioritas, maupun ketidaksamaan derajat atas manusia yang lain. Oleh karena itu, kita diharuskan agar senantiasa berbuat baik serta mengedepankan sikap untuk saling menghormati dengan sesama. Apabila hal ini dapat terwujud, maka cita-cita akan perdamaian, toleransi, ataupun kerukunan masyarakat akan lebih mudah untuk direalisasikan.

Makna Thawaf
Thawaf merupakan rangkaian dari ibadah haji dimana kita diharuskan untuk mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Pada hakekatnya, pelaksanaan thawaf dapat diartikan sebagai tindakan meniru perilaku alam semesta yang senantiasa ‘berdzikir’ kepada Allah Swt. Dengan mempelajari ilmu pengetahuan alam, kita dapat mengetahui bahwa sesungguhnya benda-benda alam senantiasa bergerak. Gunung yang besar dan kokoh ternyata bergerak (bergeser), bulan bergerak dengan mengelilingi bumi, bumi bergerak dengan mengelilingi matahari, dan mataharipun bergerak mengelilingi pusat dari gugusan-gugusan bintang yaitu galaksi bima sakti (milky way) atau yang kita kenal dengan sebutan black hole. Inilah makna thawaf dalam dimensi vertikal, yaitu penegasan bahwa sesungguhnya kita merupakan bagian dari alam semesta yang tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta, yakni Allah Swt. dan diharuskan untuk senantiasa mengingat-Nya.

Dalam dimensi horizontal, kita diminta untuk senantiasa hidup dengan penuh keteraturan seperti keteraturan gerak benda-benda alam raya. Bayangkan apabila gerakan yang dilakukan oleh benda-benda tersebut tidak teratur, tentunya akan mengakibatkan chaos (suatu keadaan dengan penuh ketidakteraturan) yang tentunya dapat membawa kehancuran kepada benda-benda alam itu sendiri. Sama halnya dengan benda-benda alam tersebut, manusia juga dapat mengalami kehancuran apabila tidak hidup dalam keteraturan karena dapat memicu konflik. Keseimbangan hidup, itulah kunci agar kita dapat hidup dalam keteraturan, ingat, alam raya diciptakan juga atas dasar konsep keseimbangan (QS. 55: 7-9).

Selain masalah keteraturan, dalam melaksanakan thawaf kita juga diingatkan bahwa sesungguhnya kehidupan setiap manusia senantiasa berputar. Mungkin hari ini kita berada dalam kebahagian, tetapi mungkin esok kita hidup dalam kesusahan. Dan sesungguhnya semua itu merupakan cobaan dari Allah Swt. yang ingin menguji sampai sejauh mana tingkat keimanan kita.

Makna Sa’i
Setelah berthawaf, maka kita diminta untuk melakukan sa’i, yaitu: berlari-lari kecil antara bukit shafa dan bukit marwah. Untuk lebih mudah memahami sa’i, maka ada baiknya apabila kita kembali mengingat peristiwa sewaktu Nabi Ibrahim as meninggalkan anaknya, Nabi Ismail as, beserta istrinya, Siti Hajar di suatu lahan tandus yang sekarang ini kita kenal dengan nama Mekkah. Kecintaan dan keikhlasan kepada Allah Swt. adalah wujud dari dimensi vertikal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran. Mungkinkah Anda meninggalkan istri dan anak Anda yang baru lahir di sebuah lahan tandus dan tidak berpenghuni? Dan adakah alasan lain untuk melakukan hal tersebut selain dari wujud kecintaan dan keikhlasan Anda kepada Allah Swt. Tuhan sekalian alam? Sesungguhnya ini adalah wujud konkret dari apa yang kita sebut dengan Tauhid.

Keikhlasan Nabi Ibrahim as untuk meninggalkan istri dan anaknya dan keikhlasan Siti Hajar untuk ditinggalkan suami tercinta karena semata-mata perintah Allah Swt. merupakan suatu hal yang dapat kita jadikan pelajaran, apalagi di masa yang sekarang ini dimana kita dengan mudahnya melalaikan perintah Allah Swt., bahkan yang sederhana seperti menjaga kebersihan sampai yang wajib seperti shalat, karena hal-hal yang bersifat duniawi. Wahai anak-anak Adam masihkah engkau tidak menyadari bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya senda gurau belaka, dan sesungguhnya akhirat itu merupakan kehidupan yang sebenarnya?! Janganlah pernah bergantung kepada suatu hal yang hanya sesaat, tetapi bergantunglah kepada sesuatu yang abadi, yaitu: Allah Swt. Mengapa demikian? karena sesungguhnya bergantung kepada suatu yang sesaat merupakan suatu kesia-siaan.

Sementara itu, dalam dimensi horizontal sa’i merupakan wujud dari kasih sayang ibu kepada anaknya. Diceritakan bahwa ketika Siti Hajar ditinggalkan, ia mempunyai persiapan air yang cukup, tetapi ketika persediaanya mulai menipis, rasa panik mulai menghinggapi dirinya dan ia pun segera berlari-lari dari bukit shafa ke bukit marwah untuk mencari air. Ketika ia mulai lelah karena tidak menemukan air, tiba-tiba ia tercengang ketika melihat air yang memancar dari bawah padang pasir. Kemudian secara spontan ia seakan berbicara kepada air yang memancar itu agar berkumpul karena takut air itu akan kembali ke dalam pasir. Air inilah yang kini kita kenal dengan istilah air zam-zam yang berasal dari bahasa ibrani yang berarti “kumpullah-kumpullah”.

Dalam makna yang lain, sa’i mengajarkan kepada kita bahwa apabila kita ingin mendapatkan sesuatu, maka kita harus berusaha terlebih dahulu. Hanya saja dewasa ini manusia menginginkan sesuatu dengan instan karena tidak ingin lagi bersusah payah apabila ingin mendapatkan sesuatu, bahkan terkadang sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya itu.

Makna Wuquf
Wuquf di (bukit) Arafah merupakan rangkaian ibadah haji setelah sa’i. Konon pada saat Nabi Adam as. diturunkan ke bumi, beliau terpisah dengan istrinya yaitu Siti Hawa, kemudian Allah Swt. mempertemukan mereka kembali di bukit Arafah. Oleh karena itu, ada semacam anggapan bahwa bukit Arafah adalah bukit jodoh, apabila seseorang berdo’a di bukit tersebut untuk mendapatkan jodoh, konon dia akan mendapatkan jodoh. Tetapi sesungguhnya itu semua tidak lebih dari sekedar legenda atau mitos.

Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa haji itu adalah Arafah, maksudnya adalah bahwa tidak akan diterima haji seseorang apabila ia meninggalkan wuquf di Arafah. Lalu pertanyaannya adalah apa yang sesungguhnya menyebabkan wuquf di Arafah sangat penting? Hal itu disebabkan karena ketika sedang melakukan wuquf, Nabi Muhammad Saw. mendapat wahyu terakhir yang menyatakan bahwa Allah Swt. telah meridhai Islam sebagai agama umat manusia (QS. 5:3). Selain itu, Nabi juga pernah menyampaikan khutbatul wada’ (khutbah perpisahan) yaitu khutbah terakhir Nabi sebelum meninggal -beberapa bulan kemudian.

Dalam khutbah tersebut ada beberapa hal penting yang perlu dihayati, khutbah tersebut dibuka oleh Nabi dengan pertanyaan: “Wahai sekalian umat manusia, tahukah kamu dalam bulan apa kamu ini, di hari apa kamu ini, dan di negeri apa kamu ini?” Kemudian para hadirin menjawab: “Kita semuanya ada dalam hari yang suci, bulan yang suci, dan di tanah yang suci.”

Mendengar jawaban tersebut, Nabi melanjutkan khutbahnya: “Oleh karena itu, ingatlah bahwa hidupmu, hartamu, dan kehormatanmu itu suci, seperti sucinya harimu ini, dan bulanmu ini, di negeri yang suci ini, sampai kamu datang menghadap Tuhan.” Sejenak Nabi terdiam, tetapi kemudian berkata lagi: “Sekarang dengarkan aku, dengarkanlah aku, maka kamu akan hidup tenang; ingatlah kamu tidak boleh menindas orang, tidak boleh berbuat zhalim kepada orang lain, dan tidak boleh mengambil harta orang lain.”

Dari penjelasan di atas, penulis melihat bahwa makna wuquf dari dimensi vertikal adalah kembali sucinya kita di mata Allah Swt., tetapi sucinya diri kita harus selalu disertai dengan makna horizontal wuquf, yaitu dimana kita harus senantiasa menghargai dan menghormati orang lain dengan cara tidak menindas, tidak berbuat zhalim, dan tidak mengambil harta orang lain.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya dalam pelaksanaan ibadah haji, nilai-nilai kemanusiaan sangat dikedepankan. Jika kita memperhatikan ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an yang membahas masalah haji, maka semua ayat-ayat tersebut menekankan kepada kemaslahatan dan perikemanusiaan. Bahkan khutbah terakhir Nabi di Arafah dapat dikatakan sebagai pidato (khutbah) pertama yang mengangkat tema Hak Asasi Manusia (HAM) yang sekarang ini sedang banyak dibicarakan oleh kalangan barat.

Oleh sebab itu, jika kita berbicara tentang haji mabrur, maka yang dimaksud adalah bagaimana kita dapat mewujudkan makna ibadah haji tersebut dalam solidaritas sosial. Di kalangan kaum sufi ada suatu kisah menarik yang dapat memberi gambaran menganai hal ini. Alkisah, ada sepasang suami-istri yang sederhana, tetapi bertekad untuk menunaikan haji. Untuk mewujudkan tekad tersebut, mereka bekerja keras dan bersusah payah, hasil yang mereka peroleh kemudian mereka tabung. Setelah bertahun-tahun menabung, akhirnya tabungan mereka telah cukup untuk bekal perjalanan. Mereka pun akhirnya berhaji. Tetapi, sebelum sampai ke Mekkah, mereka melewati sebuah kampung yang rata-rata penduduknya sangat miskin. Mereka melihat banyak anak-anak yang menderita busung lapar; mereka juga melihat anak-anak yang tidak berpakaian. Suami-istri itu iba. Mereka berpikir bahwa naik haji memang merupakan perintah Tuhan, tetapi itu hanya dinikmati oleh mereka berdua. Sedangkan di depan mereka sedang terlihat pemandangan yang mengenaskan. Mereka kemudian berpikir, “Bukankah lebih baik apabila bekal kita diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkan?”

Akhirnya mereka berdua sepakat untuk memberikan tabungan mereka selama bertahun-tahun itu kepada penduduk kampung tersebut. Mereka pun batal berhaji. Namun ketika sampai di rumah, ada seseorang, yang mereka tidak kenal sama sekali, yang menyambut mereka dengan ucapan: “Selamat datang dari haji mabrur wahai hamba Allah yang mulia.” Mendengar ucapan tersebut, mereka sama sekali tidak mengerti. Mereka pun menjelaskan bahwa mereka tidak jadi berhaji. Tetapi orang tersebut menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan di perjalanan itulah yang sesungguhnya disebut haji mabrur. Setelah berkata demikian, orang tersebut kemudian menghilang. Dalam riwayat, orang tersebut adalah malaikat yang diserupakan dengan manusia oleh Allah Swt.

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil substansi sesungguhnya dari apa yang disebut dengan haji mabrur, yang ternyata dapat diperoleh tanpa melakukan ibadah haji secara formal. Kini marilah kita renungkan sindiran dari guru kita, Alm. Buya Hamka kepada mereka yang baru pulang dari Tanah Suci dengan pertanyaan: “Apakah ada oleh-oleh lain yang kau bawa selain air zam-zam?” Tentu kita dapat memahami bahwa ‘oleh-oleh’ yang dimaksud disini adalah haji mabrur. Semoga saudara-saudara kita yang kini sedang berhaji dapat menjadi haji mabrur dalam makna yang sesungguhnya. Last but not least, sungguh percuma bagi mereka yang berhaji apabila tidak dapat menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya mari kita berdoa dengan ketulusan jiwa dan hati kita, semoga semua jamaah calon haji kota dan Kab.Bima, musim haji 1433 H/2012 ini, dapat melaksanakan prosesi manasik haji dan umrah dengan sebaik baiknya, dan meraih haji Mabrur/haji yang diterima Allah, haji yang berkualitas yang tidak ada lain balasannya kecuali surga nya Allah SWT. Amin yarabbal alamin…………………

Persiapkan Diri Anda Menyambut Kedatangan Ramadan 1433 H

Persiapkan Diri Anda Menyambut Kedatangan Ramadan 1433 H

 (H. Ahmad, S.Ag)

Alangkah bahagianya kaum Muslimin dengan kedatangan bulan Ramadan, bulan penuh keberkahan, bulan Al-Quran, bulan ampunan, bulan kasih-sayang, bulan doa, bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api neraka.

Bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh segenap kaum Muslimin. Bulan yang sebelum kedatangannya Rasulullah SAW berdoa kepada Allah: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” Bulan dimana orang-orang saleh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan ke bulan Ramadan enam bulan sebelum kedatangannya, Mualla bin al-Fadhl berkata: “Mereka (salaf) selama enam bulan  berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadan diterima.” Kenapa mereka begitu bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadan? Mari kita dengarkan sabda Rasulullah SAW ketika beliau memberi kabar para sahabatnya dengan kedatangan bulan Ramadan: “Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadan seluruh setan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru: “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi).Rasulullah Saw. juga bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaiakan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki).

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengomentari hadits ini dengan perkataannya: “Hadits ini merupakan dasar dan dalil memberi ucapan selamat yang dilakukan kaum Muslimin kepada Muslimin lainnya dengan kedatangan bulan Ramadan, bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu surga? Bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan ditutupnya pintu neraka? Bagaimana orang yang berakal tidak bergembira dengan masa dimana setan-setan dibelenggu?” Hendaklah kita juga mencontoh para salaf dengan senantiasa berdoa kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadan yang penuh dengan berbagai macam keberkahan dan keutamaan tersebut.

Ramadan adalah tamu istimewa. Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai tuan rumah menyambut kedatanganya dengan suka cita dan memuliakannya. Jika ada seorang Presiden atau petinggi negara akan berkunjung ke rumah kita pasti akan direpotkan dengan berbagai persiapan menyambutnya. Kita pasti akan menata rumah kita, menyiapkan makanan istimewa dan lain-lain. Ramadan lebih dari sekadar Presiden atau pejabat tinggi lain atau apa pun saja.

Ramadan adalah anugerah Allah yang luar biasa. Ramadan adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan kita di dunia dan akhirat; oleh karenanya kita mesti menyiapkan kehadirannya dengan persiapan paripurna agar kita bisa sukses meraih gelar takwa dan mendapat janji Allah yaitu ampunan dan bebas dari api neraka. Apa saja perkara yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan tamu tersebut?

 

1.  Niat yang sungguh-sungguh

Ketika Ramadan menjelang, banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga menyiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi, sedikit dari mereka yang menyiapkan hati dan niat untuk Ramadan. Puluhan kali Ramadan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadan hanya sekadar ritual belaka, sekadar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula.

Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadan kali ini sebagai Ramadan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah. Ingat sabda Rasulullah SAW.: “Barangsiapa yang puasa Ramadan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

2. Bertaubat dengan sungguh-sunguh.

Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah. Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momentum kebaikan. Ada momentum yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak, istri, dan perhiasan dunia lain yang menyebabkannya lupa kepada Rabb, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memerbaharui taubatnya.

Ramadan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Mana para pendosa? Mana orang-orang yang melampaui batas? Mana orang-orang yang selalu bermaksiat kepada Allah siang malam? Mana orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi Allah di bumi-Nya, dan menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat! Karena tidak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.

3.  Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadan lain.

 

Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu yang Rasulullah SAW maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap muslim wajib memelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang dilakukannya bergantung pada pengetahuannya tersebut. Seorang yang ingin melakukan shalat wajib mengetahui syarat-syarat atau rukun-rukun atau hal-hal yang membatalkan shalat dan lain-lainya, agar shalatnya sesuai dengan tuntutan agama.

Begitu juga bulan Ramadan di bulan ini Allah mewajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk berpuasa. Maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk membekali dirinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang dimakruhkan dan dibolehkan dalam puasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan lain-lain supaya puasa yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak sia-sia.

Di samping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadan juga perlu seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadan, dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.

 

4.  Persiapan fisik dan jasmani

Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan agar giat membaca Al-Quran dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima, sehingga dapat memanfaatkan Ramadan dengan optimal dan maksimal. Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadan adalah salahsatu cara melatih diri untuk menyiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadan. Oleh karenanya Rasulullah mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih)

Inilah diantara hal-hal yang mesti disiapkan untuk menyambut datangnya bulan kesabaran ini.

 

Amalan-amalan sunah pada bulan Ramadan:

Selain puasa yang Allah wajibkan pada bulan Ramadan ada berbagai amalan yang disunahkan pada bulan ini di antaranya:

  1.  Mengkhatamkan Al-Quran

Bulan Ramadan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertamakali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:

Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)

Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.”

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus Al-Quran, dan berkumpul dalam majlis Al-Quran dalam bulan Ramadan. Membaca dan belajar al-Qur’an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran pada malam hari.

Dalam hadis di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

2. Shalat tarawih

Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadan tidak ada batasannya. Sebagian orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa shalat malam adalah perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan ada riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”

3.  Memperbanyak doa

Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.

4.  Memberi buka puasa (tafthir shaim)

Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:” Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim

5.  Bersedekah

Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadan” (HR. Tirmizi).

Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.

Pada akhir bulan Ramadan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.

6.  I’tikaf

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.

7.  Umroh

Ramadan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadan seperti haji bersamaku.

8. Memperbanyak berbuat kebaikan

Bulan Ramadan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah. “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan momentum Ramadan untuk merealisasikan ketakwaan diri kita dan bisa meraih predikat “bebas dari neraka.” Amin

Penulis adalah Sekretaris Umum MUI Kota Bima.

30 CIRI SUAMI DURHAKA KEPADA ISTRI

30  CIRI SUAMI DURHAKA KEPADA ISTRI

Oleh :Ahmad. S,Ag

Suami adalah perhiasan istri. Demikian juga sebaliknya, istri adalah perhiasan bagi suaminya. Suami yang baik adalah idaman bagi setiap istri. Berikut ini akan saya berikan 30 perilaku durhaka suami terhadap istri . Dan saya berharap , semoga kita semua  tidak  tergolong tipe  suami seperti dibawah ini terutama diri pribadi kami.

Adapun ke  30 Perilaku durhaka suami  kepada istri  adalah sebagaimana yang akan kami uraikan dibawai ini :

 

1.Tidak mau melunasi hutang mahar (mas kawin).

 2.Menarik kembali mahar tanpa keridloan istri.

3.Menelantarkan belanja istri.

 4.Melanggar komitmen baik dengan  istri atau melanggar shigat ta’liq /pakta integritas suami utk siap memperlakukan istri dengan makruf(baik) wa asyiruhunna bil makruf).

 5.Tidak menyediakan tempat tinggal buat istri/menelantarkan istri.

6.Tidak memberi kebutuhan seksual istri.

7.Menyenggamai istri pada waktu haid.

 8.Memperlakukan istri dengan kasar.

9.Membiarkan istri berbuat nusyuz yaitu melakukan perbuatan-perbuatan yang sifatnya menyakiti hati istrinya, tidak menyayanginya ,melecahkan istrinya , menolak kebutuhan istrinya, bepergian tanpa izinnya, bermain mata dengan wanita  lain (berselingkuh) serta tidak bisa menjaga kehormatan  diri dan  keluarganya.

10.Mengajak istri berbuat dosa.

11.Membebani kerja istri diluar kemampuannya.

12.Tidak adil dalam memberikan nafkah lahir dan bathin  istri –istrinya (bagi yang berpoligami)

 13.Mengusir istri dari rumahnya.

 14.Melimpahkan tanggungjawab suami kepada istri.

15.Menuduh istri berbuat zina tanpa bukti sah.

16.Menceraikan istri dengan sewenang-wenang. Tampa alas an yang dibenarkan oleh Syar’i

17.Memeras istri.

 18.Menyebarkan rahasia hubungan suami istri kepada orang lain.(memebeberkan kelemahan istri kepada orang lain.) 19.Menempatkan istri serumah dengan ipar laki-laki, (Daiyuz tidak ada rasa cemburu positif kepada istri, padahal istri sudah ada tanda berbuat serong)

20,tidak pernah menuyuruh istri dan anak utk menegakkan sholat, berbuat baik, bertaubat dan berakhlak mulia.

21, tidak pernah mentarbiyah istri serta tidak pernah memotifasi istri untuk berbuat baik

22. tidak pernah memberikan contoh dan teladan yang baik bagi istri, bahkan sring menampilkan teladan yang buruk dan tidak  mendidik kepada keluarga.

23. Selalu menyesali terhadap perbuatan istri/lari dari tanggung jawab.

24 selalu melecehkan pada pihak keluarga istri

25,selalu negative tingking/su’udhon kepada istri

26.mencari-cari kesalahan istri

27 melupakan jasa baik istri

28.membanding-bandingkan istri dengan orang lain (merendahkan martabat istri di depan orang)

29. tidak pernah memuji kebaikan istri.

30.Tidak memberi pesangon istri dalam masa iddah.

 

30 perilaku durhaka suami terhadap istri diatas sudah sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di televisi, tetangga kita atau bahkan secara tidak sadar, kita pernah khilaf melakukannya. Masih ada waktu untuk memperbaiki, kita harus menjadi manusia yang lebih baik dari hari ini dan menjadikan istri dan keluarga kita sebagai sarana ibadah demi mencari ridho-Nya . InsyaAllah..

 

 

11 Nasehat Bagi wanita Muslimah Menuju profil wanita cerdas Nan sholihat

 

11 Nasehat Bagi  wanita Muslimah

Menuju profil wanita cerdas Nan sholihat

Oleh. Ahmad.S.Ag.(Sekum MUI Kobi)

1. Tegakkan Sholat tepat pada Waktunya  dan jauhilah segala bentuk kemaksiatan.

Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah. Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncang kerajaan. Oleh karena itu jangan engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah.

Wahai hamba Allah..! jagalah Allah maka Dia akan menjagamu beserta keluarga dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan menceraiberaikan keutuhannya.

Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata:Aku mohon ampun kepada Allah! itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku) Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat,  yaitu :

  1. Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar.
  2. Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat riya dan sum’ah.
  3. Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah berfirman :”Wahai orang-orang yang briman janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang menolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita yang mengolok-olokkan(QS. Al Hujurat: 11).
  4. Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak . Rasulullah bersabda: Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya (HR. Muslim).
  5. Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pambantu dan pendidik-pendidik yang kafir.
  6. Meniru wanita-wanita kafir. Rasulullah bersabda: Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud serta dishahihkan Al-Albany).
  7. Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.
  8. Tabarruj (pamer kecantikan) dan sufur (membuka aurat/menonjolkan kan lekuk –lekuk tubuh/ (Maaf) termasuk wanita yang  masih memakai jilbab yang dililit di leher karena yang ditampilkan adalah MODEL Busana masa kini.).mohon beralihlah  pada Jilbab SYAR’I yaitu Jilbab Standar  yang menutup bagian depan wanita
  9. Keluar rumah dengan laki-laki yang bukan muhrimnya atau berdua-duaan dengan pria yang bukan muhrimnya.
  10. Menerima tamu laki-laki dikala suami tidak ada di rumah.
    2. Berupaya mengenal dan memahami suami

Hendaknya Ukhtiku  berupaya memahami suamimu. Apa–apa yang ia sukai, berusahalah memenuhinya dan apa-apa yang ia benci, berupayalah untuk menjauhinya dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq Laa thoatan ilal makhluqin limakshiyatillah  Allah (Al Hadis)

3. Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik.

Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah bersabda: Seandainya aku boleh memerintahkanku seseorang sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya (HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albany).

Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Rasulullah bersabda: Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali (HR. Thabrani dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albany).

Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu. Dengan ketaatanmu pada suami dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjdai sebaik-baik wanita (dengan izin Allah).

4. Bersikap qanaah (merasa cukup)

Kami menginginkan wanita muslimah ridha dengan apa yang diberikan untuknya baik itu sedikit ataupun banyak.

Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu. Renungkanlah wahai saudariku muslimah, adabnya wanita salaf radhiallahu anhunna. Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat kepadanya. Apakah itu?? Ia berkata pada suaminya: “Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa bersabar dari api neraka”

5. Baik dalam mengatur urusan rumah tangga, seperti mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya.

Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.

6. Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya, khususnya dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengannya.

Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.

7.Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya.

Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu, maka sertailah ia dalam duka cita dan kesedihannya. Renungkanlah wahai saudariku kedudukan Ummul Mukminin, Khadijah radhiallahu’anha, dalam hati Rasulullah walaupun ia telah meninggal dunia.. Kecintaan beliau kepada Khadijah tetap bersemi sepanjang hidup beliau, kenangan bersama Khadijah tidak terkikis oleh panjangnya masa. Bahkan terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang sejuk, sehingga menjadikan Rasulullah merasakan ketenangan setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali pertama: Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi, menanggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.(HR. Mutafaq alaihi, Bukhary dan Muslim).

8. Bersyukur (berterima kasih) kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaannya.

Wahai istri yang mulia! Rasa terima kasih pada suami dapat kau tunjukkan dengan senyuman manis di wajahmu yang menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya. Atau engkau ungkapkan dengan kata-kata cinta yang memikat yang dapat menyegarkan kembali cintamu di hatinya. Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan hak-hakmu dengan membandingkan lautan keutamaan dan kebaikannya kepadamu.

9. Menyimpan rahasia suami dan menutupi kekurangannya (aibnya).

Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu kekhususannya. Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapapun, maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi. Saudariku, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’i seperti mengadukan perbuatan dzalim kepada Hakim atau Mufti atau orang yang engkau harapkan nasehatnya.

10. Kecerdasan dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan.

Termasuk kesalahan adalah: Seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya. Padahal Rasulullah telah melarang hal itu dalam sabdanya: Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihatnya (HR. Bukhary dalam An-Nikah).

11.bersikap Galimah kepada Suami. (lembut hati lagi pemikat/penggoda hati suami)

Galimah artinya istri yang sangat memikat hati suami, sebelum suami meminta menyalurkan  hajadnya , dia sudah menawarkan lebih awal.subhanallah.sungguh sikap istri seperti inilah yang  senantiasa  membuat suami terangsang dan bergairah  terus pada pasanganya, dan senantiasa cenderung kepada pasangannya, dan suami Insyaallah tidak akan melakukan penyimpangan/berselingkuh.

Untuk para istri yang berhasrat menjadi penyejuk hati dan mata suaminya. Semoga Allah memeliharamu dalam naungan kasih sayang dan rahmatNya. Amin.